Hikmah ESQ

Sebelum hiatus panjang saya sempat menjanjikan untuk menuliskan opini tentang pelatihan ESQ yang saya ikuti, kenapa baru sekarang saya menuliskannya? Karena saya ingin melihat, setelah sekian lama, materi apakah yang masih menempel di kepala saya, karena disitu letak pelajaran yang didapat.

Apakah sholat saya lebih rajin, ibadah saya lebih khusyu? Hmm.. jujur nggak juga, tapi satu hal yang tertanam hingga kini yaitu berubahnya perspektif saya dalam memandang Islam dan Allah SWT. Islam yang secara tradisional identik dengan budaya timur tengah dan bahasa arab, menjadi suatu keagungan ajaran yang universal dan relevan dengan ilmu pengetahuan kuantum yang bahkan masih belum terjamah pemikiran manusia. Saya sampai bersujud dan menangis karena sudah meremehkan agama saya sendiri selama ini.

Memang, kebanyakan materi agama Islam yang saya dapat sedari kecil, hanyalah sebatas ajaran aturan teknis beribadah atau cerita kejayaan Islam masa lampau tanpa kupasan/diskusi yang lebih dalam tentang esensi ibadah/cerita tersebut; seperti ini dosa, ini wajib, dan itu sunnah, baca doa ini baca doa itu agar sampai hajatnya, sholat khusyu dengan lafal bahasa arab yang sempurna, habis waktu untuk hal-hal di permukaan saja tanpa sempat menyentuh kalbu dengan cahaya Islam yang sebenarnya. Bisa dimengerti karena terbatasnya lingkup pergaulan sang guru saya tersebut dan latar belakang pendidikan yang seadanya, namun tetap saya tetap menghargai dan amat berterimakasih kepada beliau karena tidak semua orang mau menjadi guru mengaji, termasuk saya sendiri :-p

Menurut saya tokoh-tokoh agama, guru-guru mengaji mestilah orang-orang yang juga memiliki sumber daya manusia yang tinggi, berpikiran terbuka, tidak terbuai oleh kenangan kejayaan Islam masa lampau dan tidak melulu mengurusi keluhan atas ketidakadilan terhadap umat Islam masa kini, karena itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Untuk Islam bisa bangkit, negara-negara Islam mesti nya lebih kompak dalam bertindak (bukan hanya mengecam) dan mengejar ketertinggalan di hampir semua bidang, lagi-lagi kuncinya ada di SDM umat Islam itu sendiri dan bagaimana mereka memandang permasalahan dunia saat ini.

Terlalu banyak hikmah dari ESQ untuk dituliskan disini, saya sarankan untuk mengikuti pelatihannya sendiri (buku ESQ agak terlalu rumit untuk dipahami). Perubahan cara pandang dan timbulnya penghargaan serta kekaguman atas ajaran Islam dan Allah SWT adalah hal terbaik yang saya dapat dari pelatihan ini.

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

(Quran 55: ar-Rahman 37-38)

Image: Rose Nebula, Hubble Space Telescope 31 October 1999.

April Snow

Kecuali film horor atau action nggak jelas, saya bisa menikmati hampir semua jenis film, dari SciFi ala Steven Spielberg, Pop Komedi ala American Pie, film-film festival yang berat, sampai film-film romantis ala Korea seperti yang baru saja saya lihat, April Snow.

Film ini bercerita tentang dua orang tetangga sebuah flat yang mengetahui bahwa pasangan mereka masing-masing telah saling berselingkuh, diketahui setelah kedua pasangan mereka tersebut mengalami kecelakaan mobil bersama, dari kamera yang terserak di mobil terekam adegan mesra kedua nya di sebuah hotel.

Image hosted by Photobucket.comKedua pasangan mereka tersebut tidak tewas, namun hanya koma dan dirawat intensif di sebuah rumah sakit. Walau tahu telah di khianati, meraka masih merawat pasangan nya masing-masing.

Bisa ditebak, sering nya bertemu di rumah sakit, status tetangga, ditambah lagi pengkhianatan pasangan mereka, perlahan tapi pasti kedua nya mulai saling memperhatikan dan jatuh cinta (duh drama Korea polll abiss..)

Masalah timbul saat bulan berganti bulan, pasangan mereka yang koma masing-masing terus membaik keadaannya, di sisi lain hubungan dan hati mereka berdua sudah terlanjur amat-amat dekat. Bagaimana jika pasangan mereka sadar dari koma, akankah mereka terus melanjutkan jalan yang sekarang atau memaafkan dan menerima kembali pasangan nya masing-masing? Konflik hati yang saya rasa bisa menguras air mata bagi penonton yang sensitif, ciehhh..

Dengan setting Korea yang dingin dan bersalju di daerah pinggiran kota yang hening, film ini cukup menghibur, juga saya suka sekali pemeran utama wanita nya, bukan tipikal model, low profile saja, namun amat anggun. Ya, saya memang tidak pernah bisa terlalu kritis dengan sebuah karya seperti film, seperti kebanyakan orang awam, saya memilih untuk menikmati saja apa adanya.

Dengan aktor berbahasa korea dan teks mandarin, tidak satu pun kalimat di film ini yang saya mengerti, namun cukup dengan bahasa tubuh dan ekspresi para pemain nya, saya tetap bisa mengerti dan menikmati jalan ceritanya sampai akhir; tidak masalah, karena cinta memang bahasa yang universal :-)